Buku Digital Mulok SASAMBO Wujud Apresiasi Kearifan Lokal

Buku Digital Mulok SASAMBO Wujud Apresiasi Kearifan Lokal

Desentralisasi pendidikan telah memberikan peluang kepada sekolah untuk melibatkan masyarakat dalam pengembangan mutu sekolah. Peluang itu dapat dimanfaatkan oleh peneliti naskah untuk mengaplikasikan hasil penelitiannya pada dunia pendidikan. Aplikasi hasil penelitian naskah pada dunia pendidikan, khususnya pembuatan muatan lokal, merupakan upaya pendidikan budaya agar para siswa lebih arif dalam menghasapi lehidupan di era kesejagatan.

Desentralisasi pendidikan pada dasarnya adalah pemberian hak kepada daerah otonom untuk mengelola pendidikan (dasar dan menengah). Dalam skema pelaksanaannya, otonomi pengelolaan pendidikan itu tidak saja berhenti pada kabupaten/kota tetapi juga sampai pada sekolah, yaitu dengan memperkenalkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Tugas pemerintahan pusat adalah menentukan kebijakan umum dalam rangka standarisasi dan melakukan fungsi fasilitasi. Hal itu berarti kewenagan dan tanggung jawab pengelolaan pendidikan ada pada daerah dan sekolah.

Pemberian otonomi pada sekolah adalah kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. Pemberian otonomi itu menuntut pendekatan manajemen yang kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasikan dan memberdayakan keinginan semua komponen masyarakat secara efektif untuk mencapai kemajuan sekolah itu. Alternatif paradigma baru manajemen adalah MBS. Inti MBS adalah ide tentang pembuatan keputusan yang partisipatoris di lingkungan sekolah dan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan prestasi siswa.

MBS membuka peluang bagi sekolah untuk mengatur dirinya sendiri. Pengaturan diri sendiri itu bukan berarti hanya komponen internal sekolah (guru, sekolah dan komite seklah) yang mengatur sekolah, melainkan masyarakat atau stakeholder juga ikut terlibat menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya. MBS adalah system manjemen yang dapat menumbuh- kembangkan suasana demokratis sehingga tercipta kepemimpinan yang transparan dan bertanggung jawab atas proses pelaksanaan pendidkan di sekolah. Dalam MBS kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan masyarakat atau stakeholder dapat memberikan ide atau pikiran yang berkaitan dengan segala upaya pengembangan sekolah, termasuk pengembangan kurikulum muatan lokal.

Pengajaran atau pembelajaran muatan lokal yang bersumber dari budaya daerah pada hakekatnya adalah upaya pendidikan budaya agar siswa lebih bijaksana dalam menghadapi dan memahami kenyataan hidup yang cenderung mendunia. Artinya, dengan memahami budaya sendiri akan membantu proses pemahaman budaya daerah lain dan budaya bangsa lain. Sikap terbuka dan apresiasif pada budaya daerah lain dan budaya bangsa lain sangat diperlukan dalam memasuki kehidupan di era kesejagatan dan hanya dengan sikap yang demikian kita mampu berkomunikasi dalam tatanan kehidupan masa depan yang penuh tantangan. Tantangan itu tidak perlu dihindari tetapi harus disiasati dengan kearifan.

Komitmen Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB dengan adanya Buku Kurikulum Muatan Lokal yang mengangkat kearifan lokal suku Sasak, Samawa dan Mbojo (SASAMBO) memberikan angin segar dalam pengajaran atau pembelajaran muatan lokal yang bersumber dari kearifan lokal dan budaya daerah.

Buku Digital Muatan Lokal dapat di akses dan didownload di: 

https://dikbud.ntbprov.go.id/index.php?/BahanAjar


sumber : Humas